More Than Red

20200529_174726

“Roses are red…
Roses are red…
Roses are red…”

Do people really know nothing about us but our colour?
Is that the only thing they can talk about when describing us?
Have they ever not see that we have green as well from our leaves?
Or perhaps our thorns something that we have; to protect ourself?

We are more than just red.
We are so much more than just our color.

Rumah Impian

Semoga aku bisa menemukan rumah bersama, yang di dalamnya terdapat ‘rumah’ untuk masing-masing aku.

Setiap aku terkadang berdua di ruang tengah, bisa juga di kamar utama, atau di tempat makan maupun ruang-ruang lainnya.

Sesekali juga diijinkan untuk beristirahat di “rumah aku” masing-masing.

Adakalanya aku mengetuk dan aku yang lain mempersilakan masuk.
Tidak bermaksud mengusik, hanya ingin tau bagaimana aku menjadi aku di dalam rumahnya sendiri.

Kadangkala salah satu aku memasang tanda ‘mohon jangan diganggu’ dan aku yang lain memahami.

Semoga rumah dapat membuat nyaman dan setiap penguninya merasa aman.
Semoga menemukan rumah yang dibutuhkan yang tetap sejalan dengan angan.

Kupu-Kupu Berbintik Ungu

“Kupu-kupu berbintik ungu. Kupu-kupu berbintik ungu. Satu hari lagi,” ucap Bunglo sambil mengangkat batu untuk dipindahkan ke samping pohon kami bertempat tinggal. Kalau kuhitung, sudah 364 batu dia kumpulkan di sana. Ia melakukannya untuk menghitung hari, sampai pada waktunya Deo, Burung Godwit itu, datang lagi. Deo berjanji pada Bunglo akan memberikan kupu-kupu berbintik ungu. Binatang yang kabarnya sangat rupawan warnanya. Aku belum pernah melihat kupu-kupu itu, sehingga aku kurang mengerti apa yang membuat bintik ungu itu begitu spesial. Apakah bintik ungu itu bersinar dengan terang? Atau dapat tetap terlihat walau dalam keadaan gelap sekalipun? Tidak ada yang benar-benar tahu, namun sepertinya semua orang tergila-gila pada binatang itu, termasuk Bunglo. Obsesi Bunglo pada binatang itulah yang membuat warna tubunnya berubah menjadi coklat pekat tepat setahun lalu. Warna yang akan muncul apabila Bunglo sedang marah, stres, atau jika pemangsa datang. Cukup lama ia bertahan dalam keadaan warna itu. Perlu waktu yang panjang sampai akhirnya tubunya kembali cerah sedikit demi sedikit. Aku bahkan sampai lupa apa warna asli tubuh Bunglo. Seterang apakah kulitnya? Hijau? Atau sebenarnya memang coklat? Seandainya waktu itu aku dan Ayah membiarkannya pergi, apakah warna tubuhnya akan selalu berwarna cerah? Atau memang ini jalan yang terbaik? Entahlah. Aku hanya berharap Deo benar-benar kembali dan membawakan kupu-kupu itu. Tidak dapat kubayangkan apa yang akan Bunglo rasakan jika penantiannya selama ini hanyalah sia-sia adanya. Semua ini memang gara-gara burung itu. Seandainya saja waktu itu kami membiarkannya tergeletak kehabisan darah. Mungkin hidup keluarga kami akan tenang-tenang saja seperti biasa.

Aku masih ingat kala itu Bunglo berteriak memanggil-manggil namaku. Ia berkata bahwa ada seekor burung besar terjatuh di dekat pohon kami. “Darah! Darah, Kak Kamel! Kita harus bantu menghentikannya,” ucap Bunglo dengan panik. Dengan cepat ia bergerak mendekati burung itu. Ia bolak-balik mengambil air, berharap dapat menghentikan darahnya. Kami ingin menolong namun sebuah kecemasan muncul, akankah burung ini memangsa kami jika ia bangun nanti? Lihat saja rupanya. Badannya sangat besar, mungkin empat kali lebih besar dari aku. Lalu, paruhnya pun panjang, runcing, dan terlihat sangat tajam. Aku merinding membayangkan apabila paruh itu menusuk-nusuk badanku, atau jika burung itu menimpaku, sesak napas aku memikirkannya. Bagaimana jika nanti burung itu sembuh dan kemudian melihat kami sebagai santapan yang lezat? Sungguh sangat mengerikan sekali. Namun, tentu saja Bunglo berkata bahwa nyawa harus diselamatkan. Ia juga bersikeras bahwa burung itu tidak akan memangsa ekor-ekor yang telah menyembuhkannya. Sungguh sangat naif cara pikirnya. Tidak semua orang berhati sepertimu, Bunglo. Seharusnya kamu lebih waspada. Akan tetapi, walaupun sebegitu menakutkanya, entah mengapa seluruh warga tergerak untuk membantu burung itu. Ajaibnya lagi, tebakan Bunglo benar. Burung itu tidak menyerang kami sama sekali. Bahkan beberapa minggu setelah ia sembuh, sebelum akhirnya ia pergi lagi, ia sempat membantu kami mengumpulkan makanan. Segala keperluan yang membutuhkan tenaga besar ia pun tak ragu melaksanakan. Aku dan Bunglo pun diajak berjalan-jalan menuju langit. Lucu juga rasanya, angin serasa menggelitik wajahku, aku jadi senyum-senyum sendiri. Deo memang menjadi sahabat untuk kami semua. Aku pun sesungguhnya senang-senang saja dengan Deo. Sampai ia mengucapkan sesuatu yang tidak perlu kami tahu.

“Bunglo, di salah satu tempatku berkelana, aku melihat kawanan yang persis serupa sepertimu,” ucap Deo kepada kami ketika sedang makan malam bersama. Apa? Deo bicara apa? Aku tidak salah dengar kan? “Kalau kamu mau dan jika keluarga mengijinkan, mungkin Bunglo bisa ikut denganku untuk bertemu dengan kawanannya? Tepat setahun kemudian aku akan mengembalikan Bunglo lagi ke sini,” lanjut Deo yang sukses membuatku tersedak. Sialan. Sialan. Mengapa ia memberi tahu informasi itu pada Bunglo? Mengapa ia mengucapkan hal gila semacam itu? Kami semua terdiam, kaget mendengar tawaran yang diucapkan oleh Deo. Aku ingat sekali warnaku sudah mulai bertambah gelap, begitu pula dengan Ayah dan Ibu. Hanya Bunglo nampaknya yang tidak terpengaruh. “Di tempatmu berkelana, apakah kamu pernah menemukan kupu-kupu berbintik ungu?” tanya Bunglo yang memecahkan keheningan. Sial. Yang kutakutkan muncul juga. Bunglo bertanya-tanya tentang binatang bintik ungu itu. “Di satu negeri dengan daratan yang tinggi, terdapat banyak ragam kupu-kupu. Aku yakin kupu-kupu berbintik ungu ada di sana,” jawab Deo. Bunglo pun tersenyum kegirangan, ia mengucap pada kami bahwa akhirnya kupu-kupu berbintik ungu bisa ditemukan. Ia berteriak dengan senang bahwa akhirnya ia bisa berwarna seperti aku, Ayah dan Ibu. Ia melompat-lompat, dan kami bertiga, hanya dapat terdiam, tersenyum, dan dengan segala usaha menahan warna tubuh agar tidak berubah.

Bunglo memang berbeda dari kawanan kami semua. Bentuk muka dan badannya lebih kecil dan runcing dibanding kami yang bulat. Di belakang kepalanya hanya ada duri-duri kecil, tidak seperti kami yang melengkung memberikan aksen lebar untuk kepala kami. Ia bisa berlari dengan cepat, sedangkan kami berjalan dengan lambat. Lidah Bunglo tidak dapat bergerak dengan cepat. Kalau kami, mangsa yang jauh pun bisa kami tangkap dalam sekejap. Dari seluruh perbedaan yang ada, satu hal yang membuat Bunglo terobsesi dengan kupu-kupu berbintik ungu adalah kemampuan mengubah warna kami yang berbeda. Ia hanya dapat mengubah warna tubuh menjadi lebih gelap. Sedangkan kami, merah, ungu, biru, bisa kami tiru. Kalau ada pemangsa datang, kami bisa cepat-cepat mengubah diri menjadi tempat sekitar. Sedang Bunglo, karena warnanya yang terbatas, ia kami suruh lari secepat-cepat dan sejauh-jauhnya. Setelah keadaan aman dan kami berkumpul kembali, Bunglo akan menangis. Ia meminta maaf karena meninggalkan kami, hanya menyelamatkan diri sendiri. Berulang kali ia akan menyalahkan dirinya dengan kemampuan berubahnya. Ia ingin dapat bisa berubah seperti kami. Keinginan ini bertambah kuat ketika teman-temannya mengejeknya. Mereka berkata Bunglo berbeda dan tidak bisa tulus mencintai seseorang. Ejekan itu muncul karena Bunglo tidak memiliki warna ungu, warna yang muncul jika seekor dari kami sedang jatuh cinta. Aku sudah berulang kali bilang untuk tidak usah menghiraukan, aku tetap dapat merasakan ketulusan hatinya walaupun tidak terlihat mata. Namun sepertinya ia sudah terlalu mengimani perkataan ekor-ekor itu, yang aku ucapkan tidak lagi bermakna untuknya. Ia bertekad ingin menjadi sama seperti kami semua; dapat menunjukkan isi hati melalui warna tubuh.

Magis kupu-kupu berbintik ungu adalah cerita lama yang tersebar di daerah ini. Konon, seekor manapun yang berhasil memakan kupu-kupu tersebut, dapat berubah warna seperti kami, setidaknya bisa berubah menjadi warna ungu. Seluruh ekor yang melihatnya akan jatuh hati, dadanya akan berdebar-debar, dan matanya menjadi berbinar-binar. Semua karena wujudnya yang rupawan dan warnanya yang sungguh memikat. Kupu-kupu berbintik ungu di dalam perut. Memakannya dan warnamu akan berubah. Kurang lebih, seperti itulah ceritanya. Bunglo pun terobsesi dengan kupu-kupu tersebut. Pernah ia hilang dua hari karena ia berkelana mencari kupu-kupu. Sekeluarga pusing dan cemas tak karuan dengan tingkahnya itu. “Tidak ketemu, kupu-kupu tidak ada di gunung ini,” ucap Bunglo sambil menangis terisak-isak. Setelah kejadian itu, Bunglo tidak begitu menggandrungi kupu-kupu itu lagi. Mungkin ia sudah berdamai dengan keinginannya. Sampai akhirnya Deo datang dan membangunkan pikiran gilanya untuk mencari kupu-kupu berbintik ungu. Kurang ajar memang burung satu itu. Bagaimana jika cerita itu tidak benar adanya? Bagaimana jika kupu-kupu sudah di perut, tapi Bunglo tidak berubah warna? Apakah Bunglo masih tetap bisa hidup tanpa harapan yang dulu dipegang teguh olehnya? Lalu, kawanan yang persis serupa dengan Bunglo? Apakah Deo berusaha memisahkan aku dengan adikku? Bagaimana jika keluarganya akan memaksanya untuk tinggal di sana? Bagaimana jika aku tidak akan bisa bersama lagi dengan Bunglo? Dia adikku, tidak peduli bagaimana rupanya, dia adikku! Berani sekali Deo memasukkan informasi dan angan-angan baru untuk Bunglo.

Aku pun segera merajuk pada Ayah, ketika ia menyetujui permintaan Bunglo untuk dapat berangkat dengan Deo. Apa yang Ayah pikirkan? Tidakkah berbahaya perjalanan menuju tempat antah berantah itu? Deo bisa terbang dengan mudahnya, tapi bagaimana dengan Bunglo? Bagaimana jika justru kerasnya angin akan menyakiti tubuhnya? Bagaimana jika Bunglo kedinginan? Bagaimana jika ada binatang-binatang buas lainnya yang datang menyergap Bunglo? Bisakah Deo melindunginya? Kami seharusnya tinggal di dahan pohon, mengapa Bunglo dibiarkan pergi berkelana di atas langit? Bagaimana jika kupu-kupu itu tidak ada? Bagaimana jika keluarganya membencinya? Bagaimana jika kupu-kupu itu benar ada dan keluarga aslinya menyanginya dengan sangat teramat sayang sehingga Bunglo akan meninggalkan kita? Bagaimana jika Bunglo tidak ingin lagi menjadi adikku… “Cukup, Kamel! Jika alasanmu menghentikan Bunglo karena kamu takut kehilangannya, Bunglo berhak memilih untuk tinggal bersama kawanannya, atau ekor-ekor lainnya yang ia mau,” ucap Ayah dengan tegas sambil memotong pembicaraanku. Aku pun tidak dapat berbicara setelah itu, hanya terdengar suara nafasku yang keluar dari hidung karena berusaha menahan tangis. Setelah berdiam cukup lama, Ayah dengan pelan berkata, “Namun, tentang keselamatan, risikonya memang terlalu besar. Ayah takut ia bahkan tidak dapat menyelesaikan perjalanan.”

Di hari Bunglo bersiap berangkat dengan Deo, Deo telah lebih dahulu pergi. Ia meninggalkan sepucuk surat untuk Bunglo. “Tahun depan aku akan kembali, membawakan kupu-kupu berbintik ungu yang engkau dambakan. Terima kasih Bunglo. Sampai berjumpa lagi.” Bunglo pun marah besar saat membaca surat itu. Warna tubuhnya berubah menjadi coklat dengan sangat cepat. Aku tidak pernah melihat warnanya segelap itu. Ia berteriak-teriak tidak karuan. Menjatuhkan dirinya dari pohon, melempar-lemparkan dirinya dari satu batang pohon ke pohon lainnya. Kami semua menangis memintanya untuk berhenti menyakiti dirinya sendiri. “Pasti kalian yang menyuruh Deo pergi sendiri! Ayah, kan? Deo tidak mungkin pergi meninggalkanku! Kenapa kalian biarkan Deo pergi? Kalian tahu aku benar-benar menginginkannya. Sungguh tidakkah kalian memikirkan perasaanku sedikit saja?” ucapnya meraung-raung. Aku pun terbawa emosi. Aku nyatakan kekesalanku, apakah ia harus benar-benar pergi ke sana bertemu keluarganya? Apakah kami tidak cukup baik untuknya? Apakah keluarga ini tidak cukup? Apakah aku sebagai kakaknya tidak cukup? “Justru itu! Ah! Kak Kamel!” teriak Deo. Aku pun dengan keras bertanya padanya, Apakah ia tidak menyayangi kami? Mengapa ia harus meninggalkan kami? “Aku hanya ingin menemukan kupu-kupu berbintik ungu! Kamu tahu betapa aku ingin menjadi seperti kalian! Betapa aku ingin menjadi bagian dari kalian! Bahwa aku ingin dapat menunjukkan apa yang aku rasakan! Aku ingin terus bersama kalian karena itu aku ingin kupu-kupu berbintik ungu itu! Mengapa tidak ada yang bisa mengerti!” Ia berteriak sambil menangis sejadi-jadinya.

Aku pun tak dapat menahan nangis, tak pula dapat berkata-kata. Semenjak hari itu Bunglo berwarna coklat gelap. Ia jarang berbicara. Ia hanya tidur, mengambil batu untuk ditaruh di samping pohon, makan, membuang kotoran, tidur lagi, sesekali berbicara dengan Ibu, komat-kamit tentang kupu-kupu berbintik ungu, tentang jumlah sisa hari Deo akan datang, lalu tidur lagi. Aku pun tidak digubrisnya. Ia hanya menjawab dengan mengangguk atau tersenyum sedikit. Warna tubuhnya perlahan menjadi lebih cerah ketika hari-hari mendekati Deo datang. Sepertinya, hari ini adalah hari warna tercerah dari tubuhnya selama setahun belakangan ini. Hari dimana Deo dijadwalkan akan datang. Dengan sumringah dan semangat ia menunggu Deo di depan tumpukan batu yang telah ia kumpulkan. Pagi berlalu, siang berlalu, sore berlalu, sekarang pun sudah menginjak malam. Warna Deo menggelap kembali. Ia melempar-lemparkan batu yang sebelumnya telah ia kumpulkan. Ia berteriak, lalu menangis, sampai akhirnya lelah dan tidur tergeletak di tanah. “Mungkin Deo akan datang sebentar lagi,” ucapku sambil berdoa bahwa burung sialan itu benar-benar akan datang. Dengan suara pelan dan muka menghadap ke tanah, Deo pun menjawab, “Bagaimana kalau ia tidak datang, Kak?” “Bersabarlah, ia sudah berjanji. Mari kita tunggu sampai sebelum ayam berkokok,” jawabku sambil mengusap-usap kepalanya.

Saat mendekati jam 12 malam, langit pun akhirnya bersuara, “Halo Bunglo, lama tidak bertemu!” Seketika warna Bunglo berubah menjadi secerah-cerahnya hijau. Deo meminta maaf karena ia sempat kehilangan arah. Ia menceritakan detail perjalanan yang ia lalui dan diakhir pembicaraan, ia mengambil sesuatu pada tasnya dan memberikannya pada Bunglo. “Sesuai janjiku, kupersembahkan anganmu, Bunglo.” Kupu-kupu berbintik ungu ternyata memang ada. Seperti cerita-cerita, sungguh cantik rupanya. Berbasis warna hitam, di bagian atas sayapnya ada corak hijau, biru, titik-titik putih dan tentunya warna ungu yang cukup lebar. Pada bagian bawah sayapnya, terdapat sedikit warna biru. Bahkan dimalam segelap ini, bitnik-bintik ungu itu bersinar, memanjakan mata yang memandangnya. Deo pun berbinar-binar memandangi kupu-kupu itu. Mulutnya tersenyum sangat lebar. Warna tubuhnya pun sepertinya bertambah cerah setiap detiknya. Aku sudah lama tidak melihat Bunglo sesenang ini. “Terima kasih, Deo! Aku harus seperti apa memakannya agar magisnya benar-benar berfungsi?” jawab Bunglo sambil sedikit melompat-lompat. Ia benar-benar tidak dapat memindahkan pandangannya dari kupu-kupu tersebut. “Caranya? Berdoa mungkin jika kau percaya? Sudah, makan saja seperti biasa kau makan,” sahut Deo.

Hatiku berdebar menunggu saat-saat Bunglo memakan kupu-kupu itu. Aku rasa dada Bunglo tidak kalah berdebarnya. Sambil mengatur nafasnya, Bunglo bersiap akan memakan kupu-kupu itu. Ia berusaha menenangkan dirinya. Dengan tersenyum, ia kemudian memandangi aku, Ayah, dan Ibu, seolah berkata bahwa ini saatnya. Dengan hati-hati, ia memasukkan kupu-kupu itu ke dalam mulutnya. Digulungnya kupu-kupu dengan lidahnya yang panjang. Ia mengunyah dengan perlahan dan lumayan lama. Setelah itu ia pun akhirnya menelan kupu-kupu itu. Dalam hati aku tidak henti-hentinya mengucap harap. Semoga warna Bunglo berubah. Berikanlah warna ungu untuk Bunglo. Berikanlah apa yang Bunglo inginkan. Aku mohon, aku mohon.

Kupu-kupu berbintik ungu di dalam perut. Memakannya dan warnamu akan berubah. Sekarang, kupu-kupu berbintik ungu sudah di dalam perut Bunglo. Ia memakannya dan dengan perlahan warna tubuh Bunglo berubah.

Kupu-kupu berbintik ungu di dalam perut. Memakannya dan warnamu akan berubah. Tubuh Bunglo yang berwarna hijau cerah berganti warna menjadi coklat pekat.

Kupu-kupu berbintik ungu di dalam perut. Memakannya dan warnamu akan berubah. Warna tubuhku, Ayah, dan Ibu pun ikut berubah coklat, persis seperti warna Bunglo satu tahun lalu.

Kupu-kupu berbintik ungu.  Sialan.

 

Mungkin

Mari berlompat-lompat.
Dari satu buah pikiran ke buah pikiran lainnya. Buat diri sendiri bingung, yang lain pun menggeleng-geleng tidak mengerti.

“Dia sakit ya?”

Mungkin iya, mungkin tidak.
Siapa yang benar-benar tahu? Mengecek saja belum, mengapa sudah keluar diagnosanya?
Ah, mungkin mereka profesional,
mungkin.

Mari berselimut di balik kemungkinan.
Di sana aman,
tidak ada yang benar-benar salah,
tidak ada yang benar-benar benar.

Mungkin.